Cermin Diriku



Hei.
Cermin diriku.
siapapun kamu
Entah sedang apa kau di hari ahad begini
Sedang berdo'a kepada yg Maha Pemberi
Atau gak jelas seperti saya ini
Didepan layar hape
Merenung di dinding efbe
Seperti kaum yahudi di dinding ratapan
yahudi simusuh Islam
sampé Imam Mahdi di bai'at
Dan Nabi Isa turun kebumi
Umat Islam
akan terus menentang ke dzaliman mereka
Emboh alias entah
Kapan diperjumpakan
"Sik penting yakin"
Begitu kata yg umum dipake
Oleh pejuang kehidupan
Dibawah genteng kripik
Warisan simbah
Berkeringat ketika bangun tidur siang
Ato tidur sama panci ketika musim rendeng
Itulah tidur di gubuk saya.
Pendingin ruangan!?
Tak lah perlu.
Udara dingin sudah siap menerobos
lubang² dinding kayu
Yg sekalian saya sedekahkan
Kepada rayap yg kelaparan
Nan rakus karna sudah kenyang
Tapi
Tetep gak mau minggat
Mau saya usir
gak tega.
Kamu tau kan
rasanya orang lapar.
Seringkali buat onar
Walau gak nembung alias bilang dulu
Tetep saya persilahkan
Saya berpikir
"baru ini yg bisa saya sedekahkan"
Jadiii gak papa lah
Aku coba mempraktikkan sebuah hadist
Bersedekahlah dalam keadaan lapang maupun sempit.
Seperti itulah kurang lebih hadistnya.
Memberi dalam keadaan lapang
itu wajar
Tapi dalam keadaan sempit
Alias kere
Itu butuh keimanan yg teguh
Laper marah
Kenyang ngamuk
Buat bingung aja sirayap ini
Biarlah, "piker keri"
Alias gak usah dipikirin
Bikin gak produktif
Saat ini pikirin memantaskan diri
Biar bisa seperti kalimat dalam kalam ilahi rabbi
"Perempuan² yg baik untuk laki² yg baik"
"Laki² yg baik untuk perempuan² yg baik" (pula)
Dan mengentaskan diri
Dari kefakiran ilmu
Kebodohan tutur kata
Sikap arogan
Iya, a.ro.gan
Terdiri dr 3 sukukata
arti dlm adjektiva adlh sombong; congkak; angkuh
Na'udzubillah, semoga bisa ku tundukkan
Semoga tangan mu sedang menengadah
Meminta kepada yg Maha membolak-balikkan hati
Dan ketika terbalik kau melihatku
Eeeaaa
Apologize
Kepada anda yg menunggu
Sungguh akupun ingin menyapa
Tapi bayang² mu pun tak ku lihat
Disiang bolong tak berbayang
Digelap malam tak nampak
Ingin ku hidupkan senter
Tapi takut batre habis sebelum sampe
Akhirnya jalan ku nyampar nyandung
Mengharapkan rembulan di akhir bulan
Seperti mengharap montor baru
Dng gaji pas-pasan
Ooh siapapun kamu
Seperti apapun wajahmu
Yg penting
tidak hitam hatimu
Tidak keriting pikirmu
Tidak pendek langkahmu
Tidak pesek nafasmu
Tidak tonggos amarahmu
Mungkin bibirmu sudah mulai lelah
Mungkin hatimu sudah mulai lesu
Mungkin kelopak matamu mulai menurun
Aku memang belum layak memetik mu
Karena masih takut tertusuk duri yg tajam
Aku melihatmu bukan sebagai obyek saja
Cara pandang yg fakir
Keindahan harus dijemput dng indah
Disitu ada daun
yg melindungi mu ketika masih kuncup
Disitu ada duri
yg terlihat akan menyakiti
Tp karna duri itulah
tak sembarang yg memetikmu
Disitu ada akar
Yg mencarikan makan untuk mu
Disitu ada batang
Yg memberimu gizi
Hingga kau bisa merekah seperti sekarang ini
Aku harus berkompromi dng mereka
Aku harus meyakinkan mereka
Bahwa akulah sang pemetik itu
Wahai harapanku
Wahai penyempurna agamaku
Wahai pelindungku dr kemaksiatan
Tapi
ku kuatkan hati terlebih dahulu
Layak kah aku
Seorang yg lemah ini
Menjaga imanmu
Seorang yg fakir ini
Membersamai hidupmu
Keindahan
Sampai jumpa
Ditempat yg indah
Diwaktu yg indah
Diperjumpaan yg indah
Ditempat sujud umum
Semoga kita berjumpa
@ardhianto05 ahad, 20 Muharram 1440 H

Komentar